REVOLUSI SUNYI SANG HABIB

  • Bagikan

 

Habib Salim Segaf Al-Jufri barangkali satu diantara petinggi PKS yang memilih jalan sunyi. Beliau tak banyak bicara. Habib jarang tampil di media. Beliau juga bukan tipe orator ulung yang berapi-api membakar semangat. Intonasinya datar-datar saja. Lebih sering mengajak para audiensnya menangis ketimbang tertawa.

Habib Salim pernah menduduki jabatan publik di Pemerintahan. Beliau pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Arab Saudi. Pernah juga menjabat sebagai Menteri Sosial di era Presiden SBY. Seringkali, saat masih menjadi Menteri, doktor jebolan Universitas Islam Madinah ini tidur di rumah-rumah rakyat. Membaur bersama mereka, tanpa sekat dan tanpa jarak. Semua ini dilakoni sampai Ia pensiun menjadi pejabat publik.

Habib Ketua Majelis Syuro PKS

Habib Salim terpilih sebagai Ketua Majelis Syuro (KMS) PKS pada 2015 yang lalu. Beliau menggantikan KH. Hilmi Aminudin yang habis masa jabatannya dan bermasalah dengan kesehatannya.

Secara hirarkis, jabatan Ketua Majelis Syuro dalam tubuh PKS, lebih tinggi kedudukannya ketimbang Presiden partai. Karenanya, banyak keputusan-keputusan penting dan strategis partai tak bisa ujug-ujug dikeluarkan kecuali atas persetujuan Majelis Syuro, dimana Habib Salim sebagai pemegang palunya.

Sejak terpilih menjadi KMS, Habib Salim bertekad membawa PKS ke wajah “aslinya”. Bukan berarti, kepemimpinan sebelumnya menampilkan wajah yang palsu. Tidaklah demikian. Wajah asli PKS, kata Habib Salim adalah wajah dakwah itu sendiri; mengajak kepada kebaikan, menjadi contoh keteladanan dalam segala bentuk kebaikan. Karenanya, tagline pidato pertamanya setelah terpilih adalah “Dakwah adalah panglima.”

Menurut Habib Salim, selama ini kader-kader PKS terlalu euforia dengan politik. Sehingga, capaian-capaian dakwah selalu diukur dengan capaian politik. Kadang juga, sebagian oknum kader PKS terlalu longgar dalam berijtihad, lalu melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan politiknya. Akibatnya, sebagian diantara mereka harus berurusan dengan KPK.

Cara-cara seperti ini yang ditentang Habib Salim. Beliau merasa malu, ada kader dakwah yang harus berurusan dengan komisi anti rasuah itu. Tidak sepatutnya memang dan tidak sepantasnya! Lalu, kepada kader dan pengurus PKS, Ia selalu berpesan,”Menangkan Allah dalam segala hal.”

Bagi kader-kader PKS yang mengikuti serial ceramah Habib Salim sejak awal dilantik menjadi KMS, pasti tak asing dengan tema “keberkahan”. Tema ini sangat sederhana, namun bagi saya ini adalah hastag gerakan “revolusi” yang digaungkan sang Habib untuk “memperbaiki” PKS.

Dinamika Internal

Model kepemimpinan Habib Salim yang kalem, lembut dan santun, tidak serta merta membuat sebagian kalangan merasa nyaman. Sebagian menganggap, Habib Salim menarik PKS ke dalam gua yang gelap dan sunyi. Sebagian lagi beranggapan, kepemimpinan PKS yang baru sudah tidak punya taring lagi.

Anggapan tersebut seolah-olah mendapat pembenaran, manakala konflik antara FH dan MSI muncul ke permukaan. Bermula dari peristiwa pemecatan Fahri Hamzah dari seluruh jenjang keanggotaan partai, hingga munculnya GARBI yang menjadi underbow gerakan perlawanan loyalis FH di lapangan.

Selama rezim GARBI berlangsung, perlawanan dari mereka yang menentang pemecatan FH bukan main garangnya. Mulai dari bahasa sindiran hingga terang-terangan menyampaikan penentangan. Bahkan mereka melambungkan hastag “Pemimpin Under Capacity”.

Tidak hanya itu, beberapa pentolan GARBI juga tak segan-segan menduduki aset dan properti yang selama ini digunakan oleh pengurus PKS di Daerah. Mereka juga membuat gerakan “kosongkan PKS” jelang Pemilu 2019. Hasilnya, beberapa Caleg PKS mundur berjamaah dan membelot menyokong GARBI pada detik-detik pemilihan akan dilaksanakan.

Namun, semua tudingan dan perlawanan itu dihadapi dengan biasa-biasa saja. Kantor PKS yang diduduki GARBI dibiarkan, mobil operasional yang disabotase juga tak diambil balik. Semuanya dibiarkan berlalu dan kader dipersilakan untuk menilai watak asli dari sebagian mereka.

Pada Pemilu 2019 kemarin, banyak pengamat memprediksi suara PKS akan gembos. Konflik yang berlarut² membuat calon pemilihnya akan lari menjauh. Tapi takdir berkata lain. Bukannya gembos, perolehan suara PKS melejit ke angka 11 juta lebih. Bertambah sekitar 3 juta suara dari perolehan Pemilu 2014 yang tercatat sekitar 8 juta. Jumlah perolehan kursi di DPR RI juga bertambah. Dari 40 kursi pada Tahun 2014 menjadi 57 kursi pada Tahun 2019. Sebuah capaian positif di tengah pusaran konflik.

Kini, para pengasong GARBI sudah bermetamorfosis menjadi partai politik baru. Mereka akhirnya punya saluran politik secara legal dan konstitusional. Tidak lagi bermain sodok dari belakang. PKS tentu merasa lega dengan kehadiran calon kompetitornya. Setidaknya, PKS tidak lagi menguras waktu terlalu banyak untuk berkonflik.

Harapan dan Tantangan

Pada Oktober 2020 yang lalu, kepengurusan PKS berganti. Habib Salim terpilih kembali menjadi Ketua Majlis Syuro. Habib berhasil melakukan revolusi dan dipandang sangat layak melanjutkan misi partai dakwah ke depan.

Di kalangan Ormas Islam, sebut saja NU dan Muhammadiyah, gaya kepemimpinan Habib Salim relatif bisa diterima. Sosoknya yang lembut, santun dan berwibawa dipandang cocok dengan kultur masyarakat Indonesia yang ramah, serta berkelindan dengan spirit keagamaan yang dikembangkan oleh dua Ormas Islam tersebut.

Karenanya, sejak kepemimpinan Habib Salim, kesan Wahabi dan radikalisme nyaris tak terdengar gongnya. Biasanya, jelang Pemilu, kesan Wahabi yang anti Maulid, selalu muncul ke permukaan. Bahkan, intelektual NU, Ulil Absar Abdalla, memberi kesaksian ada pergeseran paradigma dalam praktek keagamaan di tubuh PKS, dari sebelumnya terlalu miring ke kanan (Wahabi), menjadi lebih moderat.

Sebuah keuntungan bagi PKS, jika mereka mampu mengelola nama baiknya di hadapan warga Nahdiyyin maupun warga persyarikatan. Karena biar bagaimanapun, dua ormas Islam ini punya gerbong masa yang sangat padat. Selain itu, akan menjadi daya ungkit elektoral luar biasa bagi PKS, manakala mereka mampu menempatkan dirinya sebagai katalisator kepentingan politik dan keagamaan antara NU dan Muhammadiyah.

Dalam issu kebangsaan, PKS juga tak boleh terbawa dalam pusaran konflik yang mengarah pada perpecahan. PKS harus menjadi lokomotif persatuan. PKS tidak mesti memihak salah satu di antara dua kubu yang bertikai. Karena pada hakikatnya, bangsa ini satu. Tidak dua dan juga tidak salah satu. Semuanya harus dirangkul dalam satu jalinan kebangsaan. Semoga ke depan PKS tambah dewasa dan bijaksana.

Selamat Munas ke-5 Partai Keadilan Sejahtera.

  • Bagikan