Munculnya Taksi Online karena Blue Bird yang Memonopoli

  • Bagikan

Jakarta, SatuNusaNews, – Permasalahan Uber dan Grab saat ini menyita perhatian masyarakat Jakarta. Ditengah mogoknya para supir angkutan umum darat yang melakukan aksi di Balai Kota DKI dan di depan Istana Negara. Bahkan dikabarkan layanan transportasi berbasis aplikasi online tersebut sempat dikabarkan akan diblokir. Pengamat Transportasi, Mintarsih A. Latief mengatakan ini merupakan suatu rentetan kejadian yang sebelum adanya Uber dan GrabCar. Permasalahan Uber dan Grab sebetulnya merupakan suatu kelanjutan dari kejadian sebelumnya sejak tahun 2000, dengan banyaknya taksi merk tertentu yang dikeluarkan oleh Blue Bird Group. Pada akhirnya terjadi monopoli, karena banyak dari pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) DKI mulai dari pimpinan yang menjadi tersangka. Disitu sudah terlihat tanda adanya banyak permainan yang dilakukan Blue Bird.

“Sekarang kita lihat sebelum ada Uber dan Grab, sudah terjadi keluhan yang luar biasa dari taksi yang bukan monopoli, karena jumlah armada dan ijin yang diberikan kepada taksi tertentu jauh berlebih. Sehingga yang terjadi adalah perusahaan taksi yang melakukan monopoli itu dengan melakukan dua taksi untuk satu pengemudi. Jadi membuat modal yang di butuhkan dua kali lipat, mulai dari ijin usaha, ijin penambahan taksi dan modal pembelian mobil semuanya berlipat. Otomatis tarif taksi harus tinggi,” ujar Mintarsih kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Rabu (16/3/2016)..

Lebih lanjut kata Mintarsih, bahwa sekarang yang terjadi adalah ada pihak yang membela Uber dan Grab karena harganya murah, dan ada juga kelompok lain yang mempersoalkan tidak adanya keadilan. Apabila mulai dari undang-undang monopoli itu betul-betul di jalankan dengan baik, kedua, melakukan persamaan dalam menjalankan Undang-undang antara uber dengan angkutan umum lain, maka harga tarif pasti turun. Dengan begitu masyarakat lebih banyak lagi yang terbela.

Ia menjelaskan, permasalahan mogoknya pengemudi angkutan umum darat, berawal dari adanya monopoli, setelah itu ada uber dan grab, yang betul-betul menjatuhkan omset pendapatan para pengemudi. Mereka (Uber dan Grab.red) mendapatkan semuanya dengan cost yang rendah, sementara taksi yang lain mendapatkan cost yang tinggi.

“Sebetulnya adanya monopoli yang membuat terjadinya harga tarif taksi yang melonjak, maka semuanya ikut jatuh,”cetus Mintarsih.

Ia menambahkan, sebaiknya dishub membuat perhitungan dengan benar dan melihat fakta lapangan. Jika kelihatan dengan kasat mata jumlah taksi sudah berlebihan, maka jangan diberikan ijin, atau berikan hak yang sama kepada semua pengusaha taksi.

“Kesalahannya adalah meningkatkan tarif taksi dengan terpaksa, karena jumlah armada yang berlebih, sehingga membutuhkan modal yang banyak. Ditambah adanya Uber dan Grab dengan biaya yang murah. Pemerintah memikirkan dalam hal ketidakadilan. Hilangkan semua biaya yang membuat tarif taksi menjadi mahal,” tutup Mintarsih. [] ydi

  • Bagikan