Halal Watch Tuntut Biofarma Salahgunakan Logo Halal MUI Publikasi Vaksin Polio

326

SatuNusaNews – Halal Watch, sebagai representatif konsumen muslim di Indonesia akan mengajukan gugatan hukum kepada perusahaan farmasi Indofarma. Gugatan tersebut akan dilayangkan terkait publikasi vaksin polio yang mencantumkan logo halal MUI, padahal koorporasi tersebut belum pernah mengajukan permohonan sertifikat halal untuk vaksin yang mereka produksi.

Ikhsan Abdullah, Direktur Eksekutif Halal Watch Indonesia, memastikan akan segera melakukan gugatan kepada Biofarma. Ini terkait dengan penyalahgunaan label halal MUI dalam materi publikasi yang diterbitkan Februari lalu.

“Ini tindak pidana sesuai UU JPH dan UU Perlindungan Konsumen,” ujar Ikhsan kepada seperti dikutip Republika Rabu (09/03).

Produsen obat milik negara, Biofarma, diduga melakukan penyalahgunaan label halal dalam salah satu materi publikasi yang diterbitkan Februari lalu. Padahal, perusahaan ini belum mendaftarkan sertifikasi halal ke lembaga berwenang, dalam hal ini Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, Makanan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Ikhsan Abdullah mengatakan, informasi dalam publikasi tersebut cenderung menyesatkan dan merupakan pembohongan publik. Ironisnya, ini dilakukan perseroan yang sahamnya dimiliki pemerintah.

“Biofarma sebagai persero harus bertanggung jawab. Dalam hukum dia adalah korporasi yang mempunyai tanggung jawab secara hukum,” ujar Ikhsan.

LPPOM MUI melalui Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, Makanan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Oesmena Gunawan menyatakan dukungannya atas rencana gugatan hukum yang akan dilayangkan Halal Watch. Menurutnya, Halal Watch menjadi representasi dari suara konsumen Muslim.

“Dia menggugat pasti tidak sembarangan, pasti ada dasar. Itu kan kebutuhan konsumen, hak konsumen, silakan saja,” ujar Gunawan.

Menurut Ikhsan, Biofarma telah melakukan penyesatan dan pembohongan publik dengan mencantumkan logo halal MUI dalam publikasi tersebut. Padahal, lembaga ini sama sekali belum mendaftarkan sertifikasi halal ke LPPOM MUI.

Ikhsan menambahkan, saat ini sudah ada bahan-bahan halal yang dapat menggantikan enzim babi dalam produksi vaksin. Keberadaan bahan nonhalal dalam vaksin dinilai sangat merugikan masyarakat Muslim, sebab unsur tersebut akan terus tertanam dalam tubuh.

Tanpa menyebutkan merk, Ikhsan mengatakan saat ini telah ada beberapa produk vaksin yang secara terbuka mengakui adanya unsur babi dalam produk mereka. Tindakan ini dirasa lebih adil daripada mengklaim kehalalan produk dengan mencantumkan label palsu.

Materi publikasi yang dimaksud berjudul ‘Vaksinasi Polio Aman dan Halal’, diterbitkan Februari 2016 oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI. Dalam publikasi tersebut, tercantum dua buah label halal MUI dan pernyataan tentang jaminan halal vaksin yang diproduksi Biofarma.

“Vaksin imunisasi Bio Farma telah mendapatkan sertifikat lulus dari BPOM dan MUI,” ujar penulis seperti tercantum dalam publikasi tersebut.

Selain klaim halal, publikasi tersebut juga menyatakan Biofarma menjadi salah satu negara produsen vaksin terbesar di dunia. Indonesia dinilai menjadi pemimpin produksi vaksin di negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Biofarma memproduksi vaksin 1,8 miliar dosis per tahun, salah satunya vaksin polio. Sebanyak 60 persen di antaranya digunakan untuk memenuhi kebutuhan luar negeri.

Vaksin polio produksi Indonesia diklaim telah mensuplai dua per tiga kebutuhan vaksin polio dunia, terutama untuk negara-negara Muslim. Hingga 2015, ada 13 jenis vaksin produksi Biofarma telah diekspor. Sebanyak 145 negara menggunakan vaksin produksi Indonesia, 43 di antaranya adalah negara Islam.

Menurut publikasi tersebut, materi yang disampaikan bersumber dari kementrian kesehatan. Publikasi itu juga mencantumkan informasi mengenai situs resmi Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). #

Comments
Loading...