Membangun Khilafah Islamiyah dengan Mengadopsi Super State

135

Berawal dari Madinah, Islam berkembang ke seluruh dunia. Saat itu, konteksnya memang intisyaarul islam fil ardhi. Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Setiap teritori yg terimbas penyebaran islam, otomatis mereka bergabung dengan daulah islamiah. Dan memang begitulah konsepsi sosial kenegaraan yg berlaku pada saat itu. Ini clear, tidak ada perdebatan.

Faktanya sekarang, islam sudah tersebar ke seluruh dunia. Dan semua teritori ada amir wilayahnya masing – masing. Ada yg berbentuk republik, monarki, maupun serikat. Lalu, bagaimana proses rekonstruksi super state kepemimpinan Islam internasional?

Mengambil opsi ekspansionis dengan penaklukan wilayah, itu sangat problematis. Selain merusak tatanan internasional, harus ada ahlul quwwah yg benar – benar kuat. Meminta masing – masing kepala negara berpenduduk atau berpaham islam untuk berbai’at kepada seorang pemimpin global (khalifah), itu sangat rumit. Mereka akan berhadapan dengan konstitusi negara sekaligus elemen civil society yg belum bersepaham.

Lalu bagaimana cara kita mengkonstruksi pembentukan super state dalam tatanan global yg sudah mapan seperti saat ini? Ada baiknya kita belajar dari proses pembentukan negara benua di Eropa. Sangat menarik untuk dikaji.

Dalam alam bawah sadar penduduknya, mereka menganggap bahwa Eropa adalah tanah kristen. Karenanya wajar jika Turki selalu dihambat untuk masuk Uni Eropa. Namun dengan segala keragaman sistem pemerintahan dan paham keagamaan kristennya, mereka mampu bersatu dalam bentuk pemerintahan bersama.

Bermula dari pakta pertahanan bersama (NATO), berlanjut pada pasar bebas bersama (EEC), diteruskan polisi bersama (EUROPOL), terus berlanjut sampai dengan terbentuknya Perlemen Eropa. Proses integrasi yg sangat bagus dengan tetap menjaga eksistensi masing – masing pemimpin wilayah (presiden, perdana mentri, kanselir). Dinamika tentu ada, tapi tidak mengubah roadmap yg telah disepakati bersama.

Saat ini, Uni Eropa benar – benar menjadi super state. Bebas visa, terkoneksi secara bebas, sistem keuangan bersama, angkatan perang sendiri dll. Uni Eropa sudah lebih bebas dan mandiri dalam bersikap, terutama saat menghadapi hegemoni Amerika Serikat dan Rusia.

Proses pembentukan super state seperti ini sangat mungkin direkonstruksi oleh kaum muslimin. Saat inipun sudah banyak usaha ke sana. Mulai dari Organisasi Ulama Sedunia, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan yang paling baru adalah Koalisi Militer Bersama hasil inisiatif Raja Salman.

Jika Khilafah Islamiyah atau Pan Islamisme dianggap terlalu frontal, maka proses integrasi sebagaimana Uni Eropa layak dijadikan opsi. Dan salah besar jika dianggap tidak ada harakah islamiyah yg memotori proses itu.

Dihadapkan pada proses pembentukan super state yang terus mengalami progres seperti ini, dimanakah posisi penggiat syabab yang getol teriak pendirian khilafah Islamiyah namun tak punya konsep jelas?

Oleh Eko Jun 

Comments
Loading...