Bacakan Puisi untuk Ibunda, Sohibul Iman Menangis

125

- Advertisement -

SatuNusaNews – Suasana haru menyelimuti ruang acara peringatan Hari Ibu di Aula Kantor DPP PKS saat Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman membacakan puisi yang ia tulis untuk almarhumah ibundanya. Puisi yang ia tulis di hari wafatnya sang ibu itu ia bacakan kembali dengan suara terbata dan menitikkan air mata.

“Puisi ini saya tulis persis di hari wafat Ummi, tepatnya setelah pemakaman. Saya masuk kamar dan mulai menuliskannya,” kata pria yang akrab disapa Kang Iman itu sebelum membacakan puisinya.

Kang Iman menuturkan pada bait keenam puisinya menceritakan proses wafat sang Ibu. Kala itu pertengahan November 2005, Kang Iman terus menerima telepon yang mengabarkan kondisi Ibunda. Sekitar pukul 10 pagi, Kang Iman menerima kabar duka saat berkantor di Universitas Paramadina.

“Ummi wafat dengan cara yang indah. Almarhumah tersenyum dengan Al Quran terbuka di sisinya. Saat itu di samping Almarhumah juga terdapat telepon rumah yang sering digunakan untuk menelepon putra-putrinya di pagi hari. Ummi dimakamkan selepas Ashar. Kami semua iri,” lirihnya.

Peringatan Hari Ibu ini diadakan oleh Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS lewat Talkshow bertema “Penguatan Peran Ibu dalam Mengokohkan Ketahanan Keluarga Guna Mengokohkan Ketahanan Nasional” di Aula Kantor DPP PKS Jalan TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Turut hadir dalam acara tersebut tokoh perempuan nasional, para pegiat keluarga dari lintas agama, lintas partai maupun lintas profesi dan organisasi sekaligus bertujuan sebagai ajang silaturahim. Tampak diantara para hadirin antara lain Ketua Umum Pimpinan Pusat Kesatuan Perempuan Partai Golkar Dr Ulla Nuchrawaty, Komisioner KPI Azimah S, Direktur Pemberdayaan Informatika Ditjen Aplikasi Telematika Kemenkominfo RI Septiana Tangkari, serta Pakar Ketahanan Keluarga dan Dosen IPB Prof Euis Sunarsih.

Berikut adalah teks lengkap puisi yang ditulis dan dibacakan oleh Sohibul Iman.

UMMI

Semakin terasa nilai seorang Ibu,
rahimnya melingkupi denyut nadi dunia,
ada rasa hambar hidup tanpa dia

Ibulah yang membisikiku dengan suara hatinya
senantiasalah empati dan simpati pada penderitaan orang lain

Dia yang mengajariku dengan contohnya
bertegur sapa dan bermurah senyumlah kepada semua orang

Dia yang selalu mengingatkanku dengan bijak tentang kemuliaan
bukan harta, tapi ilmu dan kesahajaan

Di atas semua itu,
do’a-do’anya setiap saatlah yang mendatangkan kebaikan-kebaikan Allah kepada putra-putrinya

Dan kemarin, Allah melaluinya mengajariku tentang cara menjemput ajal yang baik
dengan senyum dan Alquran di sisinya

Ummi,

rehatlah di sisi Sang Kekasih,
kau telah menuntaskan tugas muliamu,
nikmatilah dekapan hangat Kekasih kita bersama

Tunggulah di surga-Nya,
putra-putri, menantu, cucu, cicit, handai taulan, dan karib-kerabat akan datang menyusulmu walau dengan bekal yang jauh lebih sedikit dari milikmu

Ummi,
kami akan berusaha meniru kebaikan-kebaikanmu, agar dapat berkumpul lagi di surga-Nya,
Amiin..

Tasikmalaya, 13 Syawal 1426 H / 15 Nopember 2005

Kami, yang kehilanganmu
Namun Ikhlas, karna kau bahagia di sisi-NYA

Comments
Loading...