Balada Jokowi dan Dollar Yang Tak Bersahabat [Bagian 2]

SatuNusaNews – Terus merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS menjadi gambaran betapa tidak berdayanya Pemerintah Yang dipimpin Joko Widodo mengantisipasi anjoknya nilai Rupiah. Beragam pembelaan yang dilontarkan para Menteri Kabinet Kerja terkait anjoknya Rupiah. berikut tim SatuNusaNews merangkum pernyataan Presiden Joko Widodo dan Para menteri Kabinet Kerja terkait Tragedi ini:

1. Tanggapan mengejutkan datang dari mantan Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, menurut Sofyan anjoknya nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp.13,000 merupakan sesuatu yang biasa biasa saja. Menurut Sofyan masyarakat sebaiknya tidak melihat rupiah yang melemah terhadap dollar, tapi lihat saja Rupiah yang menguat terhadap mata uang lain seperti Korea.

“Melemah terhadap dolar, rupiah justru menguat terhadap mata uang lain seperti Korea,” kata Sofyan di Istana Kepresidenan, Rabu, 4 Maret 2015.

Menurut Sofyan, dengan menganut rezim devisa bebas, nilai tukar rupiah amat bergantung pada faktor penawaran dan permintaan. “Yang penting fundamental ekonomi kita perbaiki,” katanya.

2. Pandangan berbeda dikemukakan oleh Menteri Keuangan Bambang PS Brojonegoro. Menurutnya melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguntungkan bagi Negara.

Baca Juga  Telat Ucapkan Belasungkawa Engeline, Jokowi Dicemooh Warga

“Memang kurs yang terjadi sekarang berada di atas asumsi APBN tetapi saya sampaikan bahwa setiap pelemahan kurs sebesar Rp100 akan menciptakan surplus di APBN,” ujarnya di Jakarta, Selasa (10/3/2015).

Potensi penambahan diperkirakan berasal dari sektor Eksport, migas dan pertambangan.

“Ada selisih penerimaan dari migas dan pertambangan baik berupa royalti dan bagi hasil migas, dikurangi dengan tambahan pembayaran bunga utang. Selisihnya akan ditambahkan surplus ke anggaran. Ini untuk menjelaskan pelemahan rupiah tidak membahayakan anggaran,” tutur Bambang.

3. Seperti tidak ingin mengecewakan rakyatnya, Presiden Joko Widodo memberi pernyataan yang menyenangkan rakyat terkait Rupiah anjlok. Jokowi mengatakan Fundamental ekonomi Indonesia masih baik.

“Sore hari ini kita akan bicara tentang perkembangan ekonomi global meskipun perlu saya sampaikan fundamental ekonomi kita baik,” kata Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas dengan Menteri Keuangan, Gubernur BI, Menko Perekonomian, dan OJK di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (11/3).

4. Terus anjloknya nilai rupiah terhadap Dollar AS Rasanya belum menjadi perhatian serius dari Pemerintah. Pasalnya Pemerintah masih beranggapan bahwa pelemahan nilai tukar terhadap dollar juga terjadi pada mata uang lain seperti Won dan Ringgit. Hal ini dikemukakan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/6/2015)

Baca Juga  Innalillah, Rejim Jokowi Mulai Menutup Website Islami

“Malaysia ringgit (depresiasi/melemah) 1,1%; won Korea 1,07%; dan peso Filipina juga 0,7%,” ungkap Bambang

Bambang menegaskan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak ada berhubungan dengan posisi defisit anggaran pada APBN-P 2015‎. Karena sampai akhir tahun, defisit anggaran bisa masih dijaga pada level 2,2%-2,3%.

“Kami tegaskan, defisit APBN itu tidak ada masalah. Kalau pun melebar, kami masih bisa toleransi sampai 2,2-2,3%. Yang penting kita jaga fundamental ekonomi,” tegas Bambang.

5. Tembusnya Rupiah hingga Rp.13,500 terhadap dollar AS dikemukakan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro merupakan bukan tanggung jawab pemerintah. Dalam tragedi ini, yang bertanggung jawab adalah Bank Indonesia.

Bambang mengatakan, rupiah yang terdepresiasi lebih dalam ini merupakan tanggung jawab otoritas moneter yakni Bank Indonesia. Menurut dia, Bank Indonesia lah yang seharusnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kebijakannya ada di Bank Indonesia, nilai tukar bukan tanggung jawab kita, utamanya adalah tanggung jawab Bank Indonesia,” kata Bambang pada Metrotvnews.com, seperti diberitakan Minggu (2/8/2015).

Akhirnya setelah Rupiah terus menerus anjlok, Presiden Joko Widodo merasa pusing melihat kondisi ini. Rupiah kembali seperti tahun 1998. Anjloknya Rupiah membuktikan betapa lemahnya pemerintah sekarang yang tidak bisa mempertahankan rupiah seperti pada prediksi para pendukung Joko Widodo waktu Pilpres 2014. #

Facebook Comments
Authors

Related posts

Top