Miris, Syariat Dicaci Maksiat Malah Dipuji

SatuNusaNews – Selasa (21/04), Gubernuran Sumut didatangi beberapa wanita cantik. Para wanita yang berprofesi sebagai model & SPG itu membawa beberapa baliho yang isinya kurang lebih ingin dinikahi oleh Gatot Pudjonugroho, orang nomor 1 di provinsi terbesar di luar Jawa ini. Dikomandani seorang wanita bernama Cut Melita, mereka mengklaim memperingati Hari Kartini dengan menolak Gubernur yang berpoligami.

Sebagaimana diketahui Gubernur Sumatera Utara Gatot memang beristri lebih dari satu. Selain Ibu Sutiyas Handayani yang kerap disapa Mbak Yas, Mas Gatot juga beristri seorang warga Bandung Jawa Barat.

Demonstrasi tak lazim ini mendapat respon negatif. Beberapa netizen warga Sumatera Utara mengomentari sinis demonstrasi yang terkesan mencari-cari celah kekurangan Mas Gatot. Seorang warga Labuhan Batu lewat akun facebooknya Jalil Labuhanbatu membuat status terkait unjukrasa yang tak lazim itu,
“Polygami dibenci
prostitusi dilegalkan
Hehehe…. sebuah pemikiran yang lahir dari OTAK ***** ***** *******
‪#‎menyikapi‬ rencana prostitusinya *****#”

Kalimat sejenis pun juga keluar dari seorang warga Sumut yang tinggal di Aceh. Lewat akun facebooknya, Abi Fathin, juga berkomentar miring atas hal itu,

Baca Juga  Pendangkalan Akidah di Jakarta Sudah Seperti Direct Selling

“Yg mau bangun pusat prostitusi disanjung2 setinggi langit.
Yg berpoligami halal & syar’i malah dimaki2.
Sang Koordinator Cut Melita pun biayain para ****** ****** buat demo. Namanya khas suku Aceh. Tp ngalah2in**** **** ******  itu pemikiran liberalismenya. Oalahhh… Bikin malu Cut Nyak Dhien aja kau.”

Jelas hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Ibukota Jakarta. Beberapa waktu belakangan ini memang Gubernur Jakarta Ahok Basuki Tjahayapurnama membuat kebijakan yang melabrak etika norma kesusilaan khususnya masyarakat Betawi yang terkenal Islamis. Namun anehnya, Ahok justru dipuji setinggi langit seolah.

Ahok yang getol memperjuangkan agar diijinkan mendirikan pusat prostitusi terang melabrak norma keislaman masyarakat Betawi yang religius. Apalagi sebelumnya Ahok juga terus mengatakan bahwa bir tidak berbahaya. Penolakannya atas pembatasan penjualan miras di swalayan justru mendapat pujian dari kelompok liberalis.

Adalah Uni Fahira Idris sang pendiri Genam (Gerakan Anti Miras) yang terus mengkritisi kebijakan Ahok yang terkesan melawan umat Islam dengan kebijakannya yang dianggap tidak mengayomi warganya. Lewat akun twitternya @FahiraIdris, ia terus meneriakkan bahaya miras yang ditujukan khusus kepada Ahok. #

Facebook Comments
Authors
Tags ,

Related posts

Top