Astronomi Mengungkap Kebenaran Al Qur’an

SatuNusaNews – Akal adalah anugerah yang paling tinggi diberikan oleh ALLAH SWT kepada ciptaan-Nya yang bernama Manusia. Akal yang membedakan Manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal manusia dapat belajar. Dengan akal pula manusia dapat mengetahui kebesaran ALLAH SWT dan dengan akal pula manusia dapat membedakan yang ghaib dan yang nyata.

Memahami Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan membutuhkan akal. Salah satunya adalah kajian mengenai proses penciptaan alam semesta yang telah diberitakan dalam Al Qur’an, dimana penafsirannya sangat mebutuhkan akal manusia untuk menggali ilmu pengetahuan alam agar manusia dapat memahaminya dan menjelaskannya dengan cara yang lebih baik. Keserasian antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa penciptanya adalah satu, yaitu ALLAH SWT. Dengan demikian tidak ada lagi keraguan, apabila kebenaran telah nyata adanya maka keimanan kaum muslim pasti akan bertambah dan menjadi kuat

Ilmu pengetahuan telah berkembang dengan sangat pesat dalam beberapa puluh tahun ini. Dengan ilmu pengetahuan manusia telah dapat mengungkap segenap rahasia-rahasia alam yang selama ini masih dalam tanda tanya atau belum bisa dijelaskan secara gamblang dan masuk akal seperti halnya masalah penciptaan alam semesta.

Al Qur’an telah lama memberitakan masalah penciptaan alam semesta tersebut, hanya saja pada waktu diturunkannya Al Qur’an, umat manusia belum bisa menafsirkan makna ayat-ayat yang terkandung didalamnya, dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan peralatan-peralatan yang waktu itu belum ada.

Disini, penulis akan membahas ayat-ayat Al Qur’an mengenai penciptaan alam semesta dan pembuktiannya secara Ilmiah. Penulis akan mencoba untuk menyelaraskan dan menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan ilmu pengetahuan yang telah diteliti dan ditemukan oleh beberapa ahli dibidang Astronomi.

  1. Tentang Astronomi dalam Al Qur’an

Islam adalah agama sempurna yang diturunkan oleh Allah SWT kepada umat manusia dengan perantara Malaikat kepada seorang manusia yang bernama MUHAMMAD SAW. Kitab suci dari Agama Islam adalah Al Qur’an, yang diturunkan secara bertahap selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, demikian menurut perhitungan para ahli. Dalam kitab suci Agama Islam terdapat berbagai macam ayat-ayat yang seluruhnya adalah sebagai petunjuk untuk umat manusia dalam menjalankan setiap sendi-sendi kehidupannya. Petunjuk-petunjuk tersebut wajib bagi kaum Muslim untuk diikuti secara keseluruhan. Diantara petunjuk-petunjuk tersebut tentunya tidak semua dapat dipahami oleh manusia pada zaman itu, sekitar 14 abad yang lalu. Sampai sekarangpun tetap masih ada ayat-ayat suci Al Quran yang belum dapat dipahami oleh umat muslim sendiri melainkan hanya sekedar arti ayatnya saja.

Baca Juga  Setelah Terompet, Kini Ditemukan Loyang Kue Bertulis Al Qur'an

Suatu petunjuk itu sesungguhnya haruslah dapat dipahami oleh manusia. Suatu petunjuk itu haruslah dapat diterima oleh akal manusia, kecuali masalah-masalah ghaib yang memang manusia tidak diberikan petujuk melainkan hanya “sedikit”. Selama permasalahan tersebut adalah masalah duniawi, maka akal manusia harus dapat menjelaskannya secara tepat. Sehingga manusiapun tidak akan pernah meragukan kebenaran dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al Quran. Dimana tujuan akhir dari semua itu adalah meningkatnya keimanan kita.

Proses penciptaan alam semesta (dunia) semenjak 14 Abad yang lalu telah diberitakan dan tercantum dalam Al Qur’an, yaitu :

1). Allah berfirman : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya’ : 30)

Pada ayat-ayat lain juga ada berita dari Al Quran yang berbunyi :

2). “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

3). “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam Enam Masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS, Al-‘A`raf [7] : 54)

Dari ketiga ayat Al Qur’an diatas, tidak mungkin dapat dipahami dan dijelaskan oleh manusia pada saat 14 Abad yang lalu dengan tanpa ilmu pengetahuan dan peralatan yang memadai seperti pada saat ini. Mungkin saja ayat-ayat tersebut dapat ditafsirkan dengan pengertian yang lain dengan yang ada pada saat ini. Seiring berjalannya waktu serta perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh umat manusia, maka setiap kata dari ayat-ayat Al Qur’an tersebut telah dapat dijelaskan secara Ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan. Kita harus menyadari ilmu pengetahuan itu berasal dari ALLAH SWT. Ilmu pengetahuan berasal dari hasil pengamatan-pengamatan yang dilakukan oleh manusia dan disusun secara sistematis agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Amati ciptaanya, bukan penciptanya. Dengan  mengamati ciptaan ALLAH SWT maka manusia akan mengetahui kebesaran ALLAH SWT, maka manusia akan mengakui kebenaran dari ayat-ayat Al Qur’an dan maka manusia akan beriman kepada-NYA tanpa sedikitpun keraguan.

  1. Penemuan Ilmiah tentang Astronomi
Baca Juga  Al Qur'an adalah Kalam Allah, bukan Sastra Jawa

Pembahasan mengenai penjelasan dari ayat-ayat Al Qur’an diatas sesungguhnya sangat panjang. Disini akan kami coba membahasnya secara ringkas namun jelas dan mudah untuk dimengerti.

Pada ayat yang pertama diatas dapat dijelaskan dengan Teori Big Bang / Ledakan Dahsyat / Dentuman Besar. Teori ini menjadi benar diyakini oleh para Ilmuwan sejak dijelaskan secara baik oleh Prof. Stephen Hawking lewat bukunya yaitu A Brief History of Time yang dipublikasikan pada tahun 1988, beliau adalah Professor di Universitas Cambridge, Inggris. Dijelaskan bahwa dahulu Alam ini hanya suatu titik yang mempunyai kondisi super padat dan panas, yang kemudian mengembang sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Terciptanya alam semesta ini dengan cara mengembang / memuai berjalan dalam enam tahapan, yaitu :

  1. Segera setelah terjadi dentuman besar, alam semesta mengembang dengan cepat hingga kira-kira 2000 kali matahari.
  2. Sebelum berusia satu detik, semua partikel hadir dalam keseimbangan. Satu detik setelah dentuman, alam semesta membentuk partikel-partikel dasar, yaitu elektron, proton, neutron, dan neutrino pada suhu 10 miliar kelvin.
  3. Kira-kira 500 ribu tahun setelah terjadi ledakan, lambat laun alam semesta menjadi dingin hingga mencapai suhu 3000K. Partikel-partikel dasar membentuk benih kehidupan alam semesta.
  4. Gas hidrogen dan helium membentuk kelompok-kelompok gas rapat yang tak teratur. Dalam kelompok-kelompok tersebut mulai terbentuk protogalaksi.
  5. Antar satu dan dua miliar tahun setelah terjadinya dentuman besar, protogalaksi-protogalaksi melahirkan bintang-bintang yang lambat laun berkembang menjadi raksasa merah dan supernova yang merupakan bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
  6. Satu diantara miliaran galaksi yang terbentuk adalah galaksi Bimasakti. Di dalam galaksi ini terdapat tata surya kita, dengan matahari adalah bintang yang terdekat dengan bumi.

Atau dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Masa Penciptaan Alam Semesta

Menurut pendapat para ahli, sampai dengan saat ini Alam Semesta tetap mengembang / memuai dengan cepat dan konstan dan lama kelamaan semakin melambat, hingga suatu waktu pemuaian itu kemungkinan berhenti.

Pengembangan alam semesta ini telah dibuktikan oleh Ilmuwan  dari Amerika Serikat yaitu Edwin Hubble pada tahun 1929 lewat sebuah eksperimen yang dilakukannya di Observatorium Mount Wilson di California menggunakan Teleskop Besar saat itu. Dari observasinya diketahui bahwa jarak antar galaksi terus menjauh dengan seiring berjalannya waktu. Jarak satu bintang dengan bintang lainnnya terhadap bumi nampak terus menjauh. Ukuran-ukuran yang diambil agar dapat diketahui bahwa bintang-bintang itu bergerak menjauh adalah dari cahayanya. Cahaya yang dipancarkan bintang-bintang tersebut bergeser ke ujung merah spektrum cahaya. Berdasarkan dari hukum-hukum Fisika yang diakui mengatakan bahwa, sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah, sementara spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu. Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai/meluas/mengembang.

Baca Juga  Sejarah Otentifikasi Al-Qur'an ( Bagian 1 )

Spektrum Cahaya

Masih ada beberapa teori lain dalam hal pembuktian bahwa memang alam semesta ini memuai. Hanya saja tidak dapat kami sajikan satu per satu.

 Demikianlah uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tulisan ini mempunyai beberapa maksud dan tujuan sekaligus, diantaranya adalah agar kita sebagai umat Islam semakin yakin dengan kebenaran Agama Islam yang kita anut ini sehingga bertambah pula keimanan kita kepada ALLAH SWT dengan tanpa keraguan sedikitpun. Disinilah kita menyadari, bahwa dunia ini ada penciptanya. Sungguh maha besar penciptanya.

Agar manusia dapat menyadari bahwa, ayat-ayat Al Quran itu bukanlah perkataan-perkataan atau karangan-karangan dari seorang manusia. Al Qur’an telah ditulis 1400 tahun yang lalu, dan baru dapat dibuktikan dalam 100 tahun belakangan ini secara ilmiah lewat Ilmu Pengetahuan yang dimiliki manusia.

Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan: “Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos”.

Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya karena “Dia bersemayam di atas ‘Arsy” dan “Dia dekat”. Sekian, ALLAHU AKBAR.

Facebook Comments
Authors

Related posts

Top