Pemberitaan ISIS, Fakta atau Cerita? 

IMG_4539

Wawancara ekslusif dengan Peneliti TERORISME,Mustofa B. Nahrawardaya

SatuNusaNews, Jakarta, ISIS menjadi berita sangat fenomenal akhir-akhir ini. Mungkin sebagian masyarakat bahkan akan menjadi bertanya –tanya mengapa berita “ISIS” ini menjadi trend topic yang hangat dibicarakan, baik di surat kabar maupun media elektronik lainnya. Yang menarik adalah, mengapa media begitu gencar memberitakan ISIS? Ada apa dibalik semua itu? Apakah berita yang disebarkan adalah sudah melalui kaidah jurnalistik?. Sejumlah pengamat maupun peneliti pun mulai angkat bicara mengenai fenomena ISIS ini, berikut wawancara ekslusif SNN dengan peneliti  TERORISME yang juga merupakan Ketua FORUMSATUNUSA dan juga kader Muhamadiyah, Mustofa B.Nahrawardaya.

 Mas Mustofa, begitu panggilannya, menyatakan keheranannya dengan munculnya berita tentang ISIS yang tidak sesuai dengan etika jurnalistik. Menurutnya, media saat ini sudah tidak jernih dan jauh dari etika jurnalistik yang seharusnya menyebarkan berita kepada masyarakat tentang ISIS melalui etika dan hakikatnya sebagai media. Seperti yang dilansir beberapa media belakangan ini, bahwa pernyataan –peryantaan sepihak tentang ISIS dilontarkan begitu saja tanpa melalui wawancara langsung kepada bos ISIS yakni Abu Bakar Al Baghdadi, yang dinyatakan oleh media sebagai Bos-nya ISIS.

Baca Juga  Kocar-kacir hadapi ISIS, Irak Minta Bantuan Relawan

Mas Mustofa, sangat berapi-api menyatakan bahwa, saat ini media  dalam memberitakan ISIS sudah sangat jauh dari  kaidah dan juklak jurnalistik yang ada, dengan tidak adanya komunikasi langsung dengan Al Baghdadi, seharusnya media tidak boleh  menyebarkan perilaku ISIS yang kejam kepada khalayak.

Karena menurut beliau, apakah memang  itu  dilakukan oleh ISIS nya Al Baghdadi, atau ISIS milik pihak lain? Padahal kesan yang beliau tangkap, ISIS yang disebarluaskan selama ini, sepertinya sudah dijustifikasi sebagai ISIS satu-satunya milik Al Baghdadi. Jika memang semua perilaku kejam (Memenggal, Memperkosa, Merampok, Membunuh, Menyandera, Membakar, Melempar orang  dari atas gedung tinggi) dilakukan ISIS, apakah lantas mudah percaya bahwa itu adalah sebuah perbuatan kelompok yang ingin mendirikan NEGARA ISLAM? Jika tidak percaya, kenapa masih menyebutnya sebagai  ISIS? . Bahkan menurut Mas Mustofa saat ini kebanyakan media tidak lagi mempunyai logika berpikir. Karena menurutnya mana ada mendirikan negara Islam dengan Memenggal, Memperkosa, Merampok, Membunuh, Menyandera, Membakar, Melempar orang  dari atas gedung tinggi orang?

Baca Juga  Komisioner Komnas HAM: Komat Tolikara Itu Islam Garis Keras

Pada saat menurunkan berita ini pun penulis sependapat dengan pendapat beliau tentang tidak berpijaknya media sekarang terhadap kaidah jurnalistik tadi dalam memberitakan propaganda ISIS kepada masyarakat.   Saat ini masyarakat hanya dijejali informasi ISIS beserta kekejamannya hanya  dari media massa yang  tidak terhubung langsung ke sumber ISIS. Sumber-sumber yang dipakai media, biasanya hanya website, akun twitter, email, surat-surat elektronik, blog, dan lain sebagainya. Bahkan sumber media hanyalah klaim/pengakuan dari orang yang mengaku orang dekat ISIS, mantan penerjemah ISIS, dan seterusnya.

Mas Mustofa juga mempertanyakan bagaimana dengan Al Baghdadi? Apakah benar nyata? Beliau sangat menyayangkan bahwa berita yang sudah tersebar ke seluruh dunia, BAHKAN sudah dipercaya sebagian besar Muslim sedunia, ternyata berasal dari sumber yang tidak valid. Yang sangat dikhawatirkan oleh Mas Mustofa sebagai pengamat terorisme ini adalah media-media yang mencoba memberitakan kegiatan ISIS milik Al Baghdadi dimana digambarkan sebagai pasukan gagah berani melawan kedhaliman, kemudian distampel sebagai media teroris. Bahkan, baru saja seorang pengelola media online yang rajin memberitakan sisi lain ISIS, malah ditangkap aparat di Indonesia.

Baca Juga  KOMAT TOLIKARA Akan Investigasi Aksi Teror di Tolikara

Sungguh keadaan yang sangat membingungkan memang, namun Mas Mustofa sangat mengharapkan bahwa kelak pemberitaan yang akan dilakukan oleh media dalam memberitakan suatu informasi seharusnya bisa dipertanggungjawabkan, demikian ujarnya , sambil menutup wawancara ekslusif dengan SNN.

Facebook Comments
Authors

Related posts

Tinggalkan Balasan

Top