Bohong itu Karakter atau “Penyakit’?

download (3)

Seringkali kita mendengar orang berkata, “Kepribadian orang itu buruk”, atau “Jangan berhubungan dengan orang itu, karena orangnya tidak baik”.

Sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan orang tersebut adalah karakter. Ketika kepribadian seseorang dilekatkan pada norma moral, pada penilaian baik dan buruk, maka orang tersebut sedang membahas tentang karakter. Dengan kata lain, karakter adalah perilaku seseorang (yang relatif permanen) ketika berinteraksi dengan lingkungan yang dilandasi dengan pengetahuan tentang moral (Naftalia, 2006).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti: Sifat-sifat kejiwaan , akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. (sifat yang khas).

Sedangkan, agama Islam mamandang arti kepribadian adalah fitrah. Dengan mengajarkan ajaran Islam dimana Fitrah disini yang telah dikotori oleh lingkungan dan dapat menjadi suci kembali. Sescara etimolgis istilah kepribadian berasal dari bahasa latin yaitu Per dan Sonarae yang kemudan berkembang menjadi persona yang berarti topeng. Kemudian berubah menjadi personality menurut pengertian modern sebagai keseluruhan kualitas tingkah laku dari pribadi seseorang.

Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek atau sifat kejiwaannya jelek,  sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia atau sifat kejiwaannya mulia (baik). Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. Namun karakter lebih dinilai sebagai penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laku yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu. Oleh karena itu, kepribadian bisa berubah. Sedangkan karakter individu, bisa dibentuk.

Baca Juga  Beras Plastik, Pemerintah dan Sucofindo Sebaiknya Jujur

Dalam dunia fana yang sering kita lihat sekarang ini, banyak orang yang ingin terlihat hebat di setiap mata orang lain. “HEBAT” dan “SEMPURNA” adalah suatu kata yang di sukai oleh setiap orang . Seseorang akan melakukan segalanya untuk terlihat hebat atau sempurna dengan cara mengubah tampilan, mengubah sifat, dan lain-lain. Sifat ingin dilihat sempurna atau hebat itulah menggambarkan kepribadiannya

Benarkah kepribadian seseorang sangat berperan penting dilakukannya suatu kebohongan? Lalu benarkah bila seseorang sering berubah-berubah berarti menandakan kepribadiannya bermasalah (sakit) ?

Apakah Anda menemui orang di sekitar Anda yang sering melakukan kebohongan? Jika iya, apa pendapat Anda? Sangat mungkin Anda menuduhnya memiliki kepribadian tertentu yang membuat orang tersebut menjadi lebih pembohong. Biasanya, mereka yang melakukan kebohongan jauh lebih banyak daripada umumnya orang disebut pseudologia fantastica. Adapun kecenderungan patologis untuk secara rela dan sadar berbohong dan membuat cerita khayalan disebut mythomania.

Para penderita mythomania memiliki kecenderungan sangat kuat untuk membuat cerita bohong pada orang lain namun bukan karena ingin membohongi. Mereka berbohong lebih karena keinginan mendapatkan perhatian lebih besar. Mythomania yang merupakan kecenderungan patologis atau ketidakberesan mental.

Baca Juga  Beras Plastik, Pemerintah dan Sucofindo Sebaiknya Jujur

MYTHOMANIA (Pembohong Patologis). Menurut Wikipedia, mythomaniac adalah orang yang memiliki perilaku yang terbiasa atau selalu terdorong untuk berbohong. Definisi lengkapnya: “Pathological lying is falsification entirely disproportionate to any discernible end in view, may be extensive and very complicated, and may manifest over a period of years or even a lifetime.”

Si”mythomaniac” dapat mengguncang dan mengganggu sistem kepercayaan dan keyakinan diri kita. Bahkan rasa percaya kita yg paling kokoh pun akan guncang dan kita mulai percaya pada ‘image’ yang dia buat, serta perlahan kita meninggalkan kenyataan yang sesungguhnya mengenai si mythomaniac tersebut.

Ketika kita mulai sadar akan kebohongannya, pada awalnya ia akan mengelak, kemudian ia akan memanipulasi lagi dari awal dengan tetap pada kebohongan yang sama, ia akan ‘mengkoreksi’ kebohongannya dengan cara berbelit dan berputar-putar dengan cerita yg baru, dengan tanpa meninggalkan kebohongan awalnya ( istilah sekarang ‘ngeles’).

Pembohong patologis ini “tidak normal”. Susunan otaknya lebih kompleks karena memiliki nerve fibres lebih banyak, dimana semuanya saling menyambung lebih rumit. Orang-orang Seperti ini, konon sebetulnya butuh psikologis/psikiater buat menyembuhkannya. Tapi…ya itu dia, susah, karena mereka sendiri kadang tidak sadar kalau udah punya kelainan jiwa.

Baca Juga  Beras Plastik, Pemerintah dan Sucofindo Sebaiknya Jujur

Mudah-mudahan kita dijauhkan dari para mythomaniac dan terutama dihindarkan dari penyakit ‘aneh’ ini.

Akhirul kata:  “Sekecil apapun perbuatan di dunia pasti ada balasannya. Tidak di dunia, kelak di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika berhadapan dengan orang-orang seperti ini, karena orang sabar akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Amiin…

 

 

 

(Dari berbagai sumber) Ditulis kembali oleh Srie Wulandari ;@wulan5674

Facebook Comments
Authors

Related posts

Tinggalkan Balasan

Top